Ironi Aktor Sejarah

Israr Iskandar, pengajar sejarah politik Universitas Andalas Padang

(Dimuat di HALUAN, 27 Februari 2011)

Sejarah tak hanya menampilkan kisah-kisah yang menyenangkan, tapi juga kesedihan. Masa lalu bahkan tak jarang mewartakan ironi manusia yang berperan sebagai aktor-aktor sejarah. Inilah perumpamaan terhadap panggung sejarah Indonesia kontemporer yang diwarnai pelbagai dinamika dan dialektika para aktornya, khususnya mereka yang dinisbatkan sebagai aktor sejarah nasional. Salah satu aktor sejarah yang tak lepas dari ironi itu adalah Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-15 Februari1989).

Sejarah mencatat, Sjafruddin berjasa menyelamatkan republik dari ambang rekolonisasi Belanda di masa Revolusi Fisik dengan memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan darurat yang “berpusat” di Sumatera Tengah. Tak terbayangkan, jika tak ada PDRI, apa jadinya Republik saat para pemimpin utamanya (khususnya Soekarno-Hatta) tak berkutik akibat ditawan militer Belanda.

Jabatan Ketua PDRI yang diemban Sjafruddin tentu setara dengan jabatan Presiden. Masa pemerintahannya memang 209 hari saja, lebih pendek dibandingkan masa kepresidenan Presiden BJ Habibie yang 518 hari atau Abdurrahman Wahid (642 hari), tapi nilai kontribusi Sjafruddin tak kalah hebatnya, karena memimpin roda pemerintahan di saat keadaan amat genting. Oleh karena itu, jika dibuat ensiklopedi presiden-presiden Republik Indonesia, Sjafruddin mestinya berada di urutan kedua, setelah Soekarno.

Peran kesejarahan Sjafruddin tak hanya itu. Ia juga pernah beberapa kali menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, Presiden Direktur Javasche Bank dan Gubernur Bank Indonesia pertama pada 1950-an. Dalam kehidupan politik, Sjafruddin juga dikenal sebagai petinggi Masyumi, partai Islam terbesar pada Pemilu 1955, pemilu demokratis pertama dalam sejarah Indonesia.

Namun citra positif Sjafruddin tersebut agaknya perlu disosialisasikan lagi termasuk ke lapisan pemimpin. Bagi sebagian generasi muda, Sjafruddin barangkali sudah menjadi sebuah gambaran yang kabur di masa lalu. Dalam bacaan sejarah di sekolah-sekolah sampai saat ini, nama Sjafruddin masih terletak di lembaran hitam atau paling tidak kelabu.

Sjafruddin kira-kira diasosiasikan dengan tokoh fundamentalis, separatis, dan sejenisnya – jika itu pun masuk dalam bacaan mereka. Sjafruddin juga tergambar sebagai tokoh sejarah yang “kritis” terhadap idiologi Pancasila, karena ia adalah salah satu dedengkot Masyumi, partai yang memperjuangkan dasar negara Islam pada sidang Konstituante 1950-an.

Sjafruddin bahkan kemudian dicitrakan sebagai “pemberontak”, karena akhir 1950-an “bergabung” dengan gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Peristiwa itu menjadi titik balik kiprah politik Sjafruddin bersama beberapa dedengkot Masyumi dan PSI lainnya. Ia dianggap “berkhianat” pada republik, karena memimpin gerakan yang ditinta tebal pemerintah dan militer sebagai “pemberontakan”. Padahal PRRI tak bisa serta merta dituding sebagai makar tanpa memahami secara baik konteks setting sosial politik dekade 1950-an yang sudah melenceng jauh dari konstitusi masa itu.

Mungkin perlu disadari bahwa sebagai manusia banyak juga tokoh nasional masa lalu memiliki “dosa-dosa politik”. Sebutlah nama Sukarno, proklamator dan Presiden RI pertama. Sukarno dianggap memiliki “dosa-dosa politik”, antara lain karena telah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 yang “melegalisasi” pembubaran Konstituante hasil Pemilu 1955, memberi ruang hidup kepada PKI, serta memaklumkan Demokrasi Terpimpin. Jenderal AH Nasution, mantan KSAD, juga dianggap punya dosa-dosa politik, karena ia dinilai telah “mendorong” dan mendukung keluarnya Dekrit Presiden 1959 itu.

Seiring perjalanan waktu, beberapa tokoh besar masa lalu kemudian menerima perlakuan tak pantas dari rezim berkuasa. Sebagiannya telah mengalami nasib tragis sejak masa Demokrasi Terpimpin, khususnya yang “terlibat” PRRI/Permesta atau para penentang rezim otoriter itu.        Di samping Sjafruddin dan Natsir, perlakuan pahit misalnya juga dialami Sutan Sjahrir, bekas PM RI pertama, Sumitro Djojohadikusumo, salah satu “arsitek” PRRI, serta beberapa tokoh Masyumi dan PSI lainnya. Pola perlakuan semacam itu terus berlanjut ke era rezim berikutnya. Bahkan di era Orde Baru, Sukarno sendiri juga mengalami perlakuan tragis secara personal maupun terhadap peran historisnya.

Begitulah, tidak adil jika melihat sejarah seorang tokoh atau pun rezim tertentu secara parsial. Tak ada tokoh yang benar-benar sempurna. Kesempurnaan adalah hak milik Allah Swt.

Lalu, apa relevansi membicarakan kembali sepenggal sejarah Sjafruddin ini? Sejarah jelas bukanlah untuk masa lalu itu sendiri. Tujuannya pastilah untuk kepentingan masa kini dan masa depan. Kepentingan masa kini bukan untuk kepentingan politik semata, katakanlah membangun justifikasi historis bagi keabsahan klan politik tertentu. Kepentingan masa kini paling penting terkait dengan butir-butir hikmah di balik penggalan-penggalan sejarah yang barangkali tak banyak diketahui publik (umum) karena memang sengaja dilewatkan.

Kisah Pak Sjaf dan banyak pemimpin politik masa pergerakan dan awal Indonesia merdeka adalah kisah idealis sejati. Idealisme tak hanya menjadi landasan perjuangan hidup bagi mereka yang digelari pahlawan, tapi juga aktor sejarah yang disebut sebagai “pembangkang” atau  “pemberontak”.

Kenyataan itu tentu terasa berbeda sekali dengan gejala laku politik kebanyakan elit yang kini berada di panggung kekuasaan di pusat maupun daerah.  Mereka tak jarang menghalalkan segala cara untuk berebut tulang kekuasaan yang pada umumnya tak berhubungan dengan kepentingan rakyat atau negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: