Titik Balik Kasus Nazaruddin?

Israr Iskandar, dosen sejarah politik Universitas Andalas

(Dimuat di KONTAN, 25 Agustus 2011)

Kasus Muhammad Nazaruddin nampaknya mengarah pada antiklimaks. Usai pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi, sang tersangka mengaku lupa atas pengakuan-pengakuan yang diutarakannya sebelumnya, khususnya menyangkut keterlibatan  elit Partai Demokrat dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games di Kementeian Pemuda dan Olahraga.

Tentu saja publik kecewa berat. Padahal, pascapenangkapan di Cartagena, Kolombia dan pemulangan paksa ke Tanah Air,  publik  berharap kasus Nazaruddin akan segera menggelinding deras, menyapu mereka yang tersangkut. Publik meyakini kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu hanyalah puncak gunung es dari suatu skandal besar yang melibatkan lingkaran kekuasaan.

Sekalipun demikian, skenario “bungkam” Nazaruddin ini juga sudah diperkirakan banyak pihak sebelumnya. Tentu saja pada akhirnya titik balik kasus Nazaruddin ini menambah panjang daftar antiklimaks banyak kasus korupsi politik yang melibatkan elit penguasa di Republik ini, khususnya sejak era Reformasi.

Secara politik, kasus yang terkait Partai Demokrat jelas tidak spesifik terjadi pada partai berkuasa itu. Korupsi politik serupa dipastikan terjadi pada banyak parpol lain mengingat buruknya akuntabilitas keuangan kepartaian kita.  Di pihak lain, unsur pemerintah terkait kasus semacam ini juga hampir merata, mengingat hingga kini reformasi birokrasi baru sebatas slogan politik.

Walaupun sang buron sudah tertangkap, publik tetap cemas dengan penanganan kasus Nazaruddin. Apalagi pada saat bersamaan, muncul pula pelbagai spekulasi liar, misalnya terkait “skenario” di balik korespondensi Nazaruddin-Presiden SBY. Paling dicemaskan, kasus ini hanya berhenti pada Nazaruddin, istrinya serta aktor-aktor kecil.

Padahal kasus ini merupakan mega-skandal yang melibatkan banyak pihak berkuasa. Polanya tetap “berjamaah”. Tak heran, Nazaruddin juga menyebut nama-nama politisi lintas-partai di Panitia Anggaran DPR. Oknum KPK pun bahkan disebut-sebut “terlibat”.  Dari sisi publik dan kepentingan bangsa, bisa dibayangkan betapa bakal dahsyatnya dampak positif pembongkaran kasus ini jika  dilakukan secara jujur, adil dan transparan.

Evaluasi

Pengungkapan kasus Nazaruddin bahkan bisa menjadi momentum memperbaiki banyak aspek terkait di bidang politik dan pemerintahan.  Pertama-tama tentu saja terkait reformasi sistem penganggaran negara. Harus ditekankan di sini, jika berhasil, upaya serupa juga bisa dikenakan bagi sistem penganggaran di daerah di mana penyimpangan yang terjadi sering juga lewat modus-modus yang sama.

Bukan rahasia lagi, titik rawan kebocoran APBN selama ini tidak hanya di pelbagai intansi pemerintah, tapi juga DPR, khususnya di Panitia Anggaran. Penyimpangan dimungkinkan, karena sejak reformasi, DPR kian memiliki kuasa atas anggaran. Dari kasus Nazaruddin terlihat betapa dahsyatnya praktik mafia anggaran  di legislatif kita yang mesti dibenahi setuntas mungkin.

Selain itu, heboh kasus Nazaruddin juga karena dikaitkan dengan buruknya keuangan partai politik kita. Pembiayaan parpol dan (sebagian) politisi masih amat bergantung pada hasil perburuan rente mereka khususnya lewat proyek-proyek yang didanai APBN dan “setoran” dari  BUMN/BUMD.

Kasus Nazaruddin harus menjadi momentum membenahi sistem keuangan parpol kita secara elementer. Jangan lagi dibiarkan berkembang keadaan di mana pembiayaan parpol dan proses politik (seperti pemilu, pilpres dan pilkada) yang begitu besar sehingga memaksa elit partai “memutar otak” mendapatkan dana segar lewat cara-cara tidak wajar dan tidak jujur, terutama korupsi dengan pelbagai modusnya.

Oleh karena itu, tak usah ada kekhawatiran, pengusutan tuntas kasus Nazaruddin secara profesional dan komprehensif akan berdampak sistemik. Kalaupun pada awal pelarian Nazaruddin, pengacara OC Kaligis pernah mengatakan, kalau tidak dikelola dengan baik, buntut kasus kliennya itu bisa mengacam NKRI. Dalam konteks negara hukum, yang mesti ditegakkan walaupun langit akan runtuh, tentu saja apa yang diungkapkan pengacara senior  itu amat berlebihan.

Pihak paling terancam atas pengungkapan kasus ini justru adalah kelompok elit yang memang suka – meminjam istilah Buya Ahmad Syafii Maarif — bermain kumuh dalam dunia politik, hukum dan pemerintahan. Pengusutan tuntas kasus Wisma Atlet ini jelas akan dapat menjadi pintu masuk yang amat strategis bagi penyelesaian kasus-kasus serupa maupun modus korupsi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: