Pilpres 2014 dan Mitos Demokrasi Minang

            Hasil Pilpres 2014 di Sumatera Barat masih menyisakan tanda tanya bagi sejumlah kalangan, termasuk mungkin kalangan pengamat. Walaupun secara nasional, berdasarkan ketetapan KPU 22 Juliu 2014, Pilpres dimenangkan pasangan Jokowi-JK, namun di Sumbar, perolehan pasangan Prabowo-Hatta masih meninggalkan “kesan” khusus. Di daerah ini, capres dari koalisi Merah Putih justru tampil digdaya, dengan angka perolehan suara 77 persen berbanding . 23 persen yang diperoleh Jokowi-JK.

           Berbagai penjelasan pun menyeruak ke permukaan mulai dari penjelasan ilmiah hingga analisis sumir alias tidak berdasar. Analisis sumir mengatakan, bahwa kemenangan Prabowo-Hatta menunjukkan bahwa pemilih di Sumbar tergolong pemilih cerdas. Pertanyaannya, apakah berarti bahwa pemilih di daerah yang memenangkan Jokowi-JK tidak atau kurang cerdas berbanding dengan pemilih di Sumbar? Tentu tidak.
              Penjelasan ilmiah antara lain mengatakan, bahwa kemenangan Prabowo-Hatta lebih karena capres nomor urut satu ini telah sedemikian rupa dipersepsi rakyat Sumbar sebagai figur yang (lebih) tegas, berwibawa, kuat, serta diyakini mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan menjadikan Indonesia (kembali) menjadi “macan Asia. Sebaliknya, berbanding dengan Prabowo, Jokowi dipersepsi sebagai figur yang lemah, capres “boneka” Megawati, ‘petugas partai’, antek asing dan Cina, memiliki latar belakang keluarga dan keyakinan agama yang tidak jelas, komunis, pro-Syiah, dsb, dst.
                Masalahnya, adanya persepsi politik dari sebagian masyarakat Sumbar di atas, untuk sebagian, dipengaruhi penerimaan dan penyerapan informasi parsial mengenai sosok kedua capres. Mereka mungkin tidak punya waktu untuk menelaah lebih jauh informasi yang diterima (yang entah dari mana) yang sebagian mengandung unsur kampanye hitam, misalnya fitnah mengenai latar belakang keluarga, agama dan rekam jejak kepemimpinan Jokowi selama ini.
Celakanya, ketika kesempatan untuk mencerna informasi perihal figur-figur capres sangat terbetas, publik di Sumbar kemudian cenderung terjebak kembali pada sentimen-sentimen lama sebagai dasar untuk menentukan pilihan politiknya. Jangan heran, masyarakat yang sentimentil semacam itu akan cenderung melihat Pilpres seakan menjadi “pertarungan” dua kekuatan ekstrem, yakni “Islam vs kafir”, “Islam vs komunis”, “Islam vs Syiah”, dst.

               Ketika politik sentimentil semacam ini lebih mengemuka dalam Pilpres 2014, apakah masih cocok dikatakan bahwa orang Minang, khususnya di Sumbar, adalah pemilih yang lebih cerdas dan/atau rasional berbanding dengan pemilih di daerah lain?
              Penulis mungkin tergolong orang yang akan memberikan jawaban yang cenderung pesimistik. Jawaban optimis hanya bisa diberikan jika pilihan politik warga tidak semata didasarkan pada sentimen-sentimen lama, apalagi jika sentimen itu diperkuat oleh ketidakmampuan mencerna dan mengkritisi informasi yang bernuansa kampanye hitam. Kelalaian, ketidakpedulian atau ketidakmampuan mencerna informasi yang bernuansa kampanye hitam jelas melengkapi pandangan pesimistik di atas.
                 Padahal di sisi lain, masyarakat Minang dikenal sebagai masyarakat yang memiliki budaya demokratis. Masyarakatnya selain egaliter, juga cenderung rasional. Egaliterianisme itu termasuk pandangan terhadap pemimpin, bahwa pemimpin itu hanya ditinggikan serantiang didahulukan selangkah yang berrati bahwa pemimpin itu adalah sosok yang dekat alias tidak berjarak dengan rakyat yang dipimpin. Dari kedua capres yang ada, justru figur Jokowi yang dikenal lebih merakyat dan sederhana, sedangkan Prabowo justru terlihat dan terkesan sangat elitis, “feodal”, dan juga “kejauhan” dari keadaan umum rakyat Indonesia.
             Persoalannya, jangan-jangan memang, telah terjadi perubahan fundamental dalam cara pandang orang Sumbar, termasuk kelas menengahnya, terhadap pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: