Lagi, Menyoal Ketimpangan

Harian Kompas hari ini (16/3/2017) mengulas persoalan ketimpangan  ekonomi di DI Yogayakarta, dengan judul laporan “Ketimpangan: Ada Apa dengan DI Yogyakarta?”.         Sungguh memiriskan. Propinsi dengan status istimewa (dan memang istimewa) ini justru memiliki indeks rasio gini tertinggi di Indonesia, yakni  0,425. Itu berdasarkan laporan terbaru BPS. Artinya, jurang kaya dan miskin di DIY sangat lebar.

Yogyakarta dikatakan istimewa, tidak hanya karena aspek kesejarahan dan budayanya (sehingga kemudian resmi disebut DIY), tetapi juga karena IPM nya yang sangat baik. SDM rata-rata daerah ini jauh lebih baik dibandingkan banyak daerah lain. Hal itu tak mengherankan, karena daerah ini tergolong headstart dalam bidang pendidikan, bahkan sejak masa kolonial.

Namun hal itu tak berkorelasi dengan pemerataan pembagian kue ekonomi pada tingkat masyarakatnya. Kue ekonomi, secara kewilayahan, lebih banyak dinikmati masyarakat urban, khususnya Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Pembangunan ekonomi memusat di dua daerah tingkat dua ini. Sedangkan daerah-daerah lain di DIY, jauh tertinggal di belakang.

Suatu pelajaran amat berharga, tidak hanya untuk pemerintahan Propinsi DIY sendiri, tapi juga pemerintahan nasional dan daerah-daerah lain, terutama daerah dengan indek ketimpangan sangat tinggi, seperti Jakarta, Jatim, Jabar, Sulsel dan lainnya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: